BIOGEOGRAPHIC STUDY OF WATERFOWL SPECIES BASED ON MICROSATELLITES SEQUENCE AND MORPHOLOGICAL CHARACTERS

 

Mohamad Amin

Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Science

Malang State of University

Jalan Surabaya 6 Malang, tlp. 0341-577088

E-mail: rizalamin@yahoo.com

 

Abstrak

The distribution of waterfowl species in the world can be traced by biogeographic study. This research tries to compare the phylogenetic tree was constructed by sequence microsatellite and morphological character. They constructed on sequence microsatellite data of species Anatidae agree with this based on morphological data, biogeographic reconstruction of ancestral areas. It could be proposed that tree derived from microsatellites loci DNA sequence show similar phylogenical and concordant features with the previous conventional systematic of waterfowl.

 

 

 

APLIKASI TEKNIK MIKROSATELLITE DALAM PEMBELAJARAN DETEKSI KERAGAMAN DAN KONSERVASI SUMBERDAYA HAYATI

 

Mohamad Amin

Jurusan Biologi FMIPA

Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Berbagai macam teknik DNA  penanda yang telah mantap dan digunakan secara luas dalam menungkapkan permasalahan dalam dunia kehidupan, misalnya deteksi keragaman dan konservasi sumberdaya hayati. Salah satu teknik dimaksud adalah microsatellite DNA atau sering juga disebut dengan variable number tandem repeats (VNTRs) atau simple sequence repeats (SSRs). Terkait dengan deteksi keragaman dan konservasi hayati, penanda ini, ada keunggulan microsatellite yaitu bersifat codominan dan yang tepenting adalah bahwa penanda ini adalah multialel dan mendeteksi jauh lebih tinggi tentang polimorfisme DNA polymorphism dibandingkan sistem penanda lain. Kepunahan dari suatu spesies atau organisme pada prinsipnya dilihat dari tingkat heterozigositas alela di dalam suatu populasi. Jika suatu populasi menunjukkan keragaman alele dan tingkat heterozigositas yang tinggi maka spesies pembentuk populasi ini memiliki keragaman yang tinggi. Namun jika jumlah alela dan heterozigositasnya rendah maka keragaman dalam populasi ini adalah rendah. Pemetaan alela ini dapat dilacak dengan menggunakan mikrosatellite.

 

Kata kunci:, heterozygositas, konservasi, microsatellite

 

 GENETIC POTENCY MAPPING OF LOCAL BUFFALO (Bubalus bubalis) IN BANYUWANGI EAST JAVA BASED ON RLFP-DNA (Restriction Length Fragment Polymorphisms DNA)

 

Mohamad Amin1) and Aris Winaya2)

1) Biotechnology Research Centre, Faculty of Mathematics and Sciences

State University of Malang, Jl. Surabaya 6 Malang 65145

amin@malang.ac.id or rizalamin@yahoo.com

2) Research Centre and Development for Biotechnology

University of Muhammadiyah Malang,

 

Abstract

Local buffalo (Bubalus bubalis) is a germplasm and a livestock that giving a high contribution for supply national flesh. Negative selection in level of breeder and nursery bed problem causes remaining livestock has low quality. Identification and mapping of genetic potency should be conducted to solve this problem especially in Banyuwangi East Java. Three populations with 32 samples were identified and examined through Restriction Length Fragment Polymorphisms (RFLP DNA). This research shows that the polymorphism based on band RFLP-DNA between three populations are different.

 

Keywords: local buffalo, livestock, RFLP, polymorphism

 
 

 

ISOLATION OF MICROSATELLITES IN PEKING DUCKS BASED ON ENRICHMENT PROTOCOL FOR THE MICROSATELLITES’ CHARACTERIZATION IN POPULATION

 

Amin, M.1,2; Neumann, K.3 and Maak, S.4

1 Pusat Kajian Bioteknologi FMIPA Universitas Negeri Malang

2 Biology Departments, Faculty of Mathematics and Science,State University of Malang

3 Biology Departments, Martin Luther University Halle-Wittenberg

4 Institute of Animal Breeding and Husbandry, Martin Luther University Halle-Wittenberg

 

Abstract

The microsatellites isolation through enrichment protocol resulted in about 1000 isolated recombinant clones. After renewed hybridization, the number of clones in total number varied clearly between the repeat motives and the ranking as follow: GAA > CA > TAA. The share of positives clones was only 1.0 % for TAA library; therefore it was not useful for further analysis. A total percentage of amplified microsatellite was about 2.0 %. From the amplified microsatellites, were obtained eight markers APH04, APH05 and APH13 from GAA library and APH02, APH08, APH12, APH15 and APH16 from CA library. Results of characterization of eight markers in four populations showed that seven of all markers are polymorph, average of number allele is 2.87 ± 1.20, the observed heterozigosity is 0.214 ± 0.120 and the expected heterozigosity is 0.243 ± 0.08.

 

Key words: isolation, microsatellites, recombinant clones, polymorph

 

INTERVENSION OF GENETIC FLOWS OF THE FOREIGN CATTLE TOWARD DIVERSITY OF PHENOTYPE EXPRESSIONS OF THE LOCAL CATTLE IN THE DISTRICT OF BANYUWANGI

 

Mohamad Amin

Biology Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang (UM),

Jl. Surabaya 6 Malang 65145.

 

Abstract

The aims of the present research are two folds: to know the phenotypic diversity and to reconstruct the cross-breeding pattern of the local cattle in Banyuwangi. Based on three sampling areas, it was found that there were 32 phenotypic cattles (10 in the sub districts of Rogojampi, 16 in Tegaldlimo and 6 in Glagah areas). The phenotypic varieties were caused by two factors, namely the flow of genetic intervention of the other local cattles (Bali, Ongole, and Brahman cattle) and the artificial insemination program using the semen of Limousine, Simmental, Aberden Angus and Santa gertrudis cattle. 

 

Key words: flow of genetic intervention, local cattle, phenotypic variation

 

STUDI AWAL TENTANG PEMETAAN PELUANG KERJASAMA PENELITIAN BIDANG MIPA DAN TEKNOLOGI ANTARA DINAS-DINAS DI WILAYAH KOTA DAN KABUPATEN AMALANG DAN LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG

 

Mohamad Amin dan Subandi

 

Abstrak

         Data laporan penelitian terhadap topik dan judul penelitian yang dilakukan oleh dosen MIPA dan Teknik selama lima tahun terakhir belum menunjukkan penelitian yang menyeluruh, terintegrasi dan berkelanjutan terutama dalam memecahkan permasalahan daerah Malang. Bertolak dari keadaan tersebut maka penelitian ini merupakan langkah awal untuk memetakan peluang kerjasama antara Lembaga Penelitian UM dengan dinas dan balai di wilayah Kabupaten dan Kota Malang terutama bidang MIPA dan teknologi untuk bersama-sama memecahkan masalah Malang secara terpadu.

         Telah dilakukan wawancara tentang potensi dan program dari empat dinas yaitu Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi (Indagkop) dan Dinas Pengawasan Bangunan dan Pengendalian Lingkungan Kota Malang serta Balai Pendidikan dan Latihan Pemerintah Kab Malang, BAPEKAB Malang (Badan Pengembangan Kabupaten Malang) dan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang. Juga dilakukan kunjungan lapangan ke sentra industri binaan  dinas Indagkop Kota Malang (sentra tempe/KOPTI) untuk melakukan penggalian data tentang masalah yang dihadapi sentra ini dan peran yang dapat disumbangkan oleh Lemlit untuk membantu mengatasi masalah tersebut.

         Hasil wawancara menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan program Balai Pendidikan dan Latihan banyak memerlukan tenaga Lemlit diantaranya penyuluhan tentang HAKI di bidang industri kemasyarakatan (tempe, batik dan usaha kecil lainnya), sertifikasi produk halal dan higienis, sosialisasi merek, pemberdayaan Lingkungan Hidup, Energi dan Sumberdaya Mineral,  POM (Pengawasan Obat dan Makanan), kursus AMDAL tipe A, B, C dan C plus, diklat pengawasan sekolah termasuk juga perencanaan, evaluasi pembuatan jalan dan jembatan. Program Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kab Malang adalah pembinaan UKM dari sisi pengembangan teknologi produk. Dengan Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi Kota Malang (Bagian UKM) telah terjalin kerjasama tingkat awal berupa pengembangan teknologi produksi tempe melalui uji mikrobiologi terhadap ‘kekhasan’ tempe Malang.

         Studi awal terhadap empat dinas di wilayah Kabupaten dan Kota Malang telah memberikan kemungkinan meningkatnya peluang Lemlit di dalam menjalin kerjasama dengan pihak dinas di Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten Malang. Dengan demikian akan memacu para staf akademik untuk bersama-sama sesuai dengan disiplin ilmunya untuk meningkatkan kualitas diri melalui penelitian kolaboratif yang peta potensinya dengan dinas terkait di Kabupaten dan Kota Malang sudah mulai tampak. Untuk memperluas terbentuknya peluang lain, maka perlu ada tindak lanjut sehingga pusat penelitian dan jurusan segera dapat memanfaatkan peluang ini.

 

Kata-kata kunci: kerjasama, Lemlit UM, MIPA, penelitian, teknologi, wilayah Malang

 

PEMANFAATAN LIMBAH KAYU SEBAGAI MEDIA TANAM JAMUR TIRAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS JAMUR

 

Mohamad Amin1), Sri Umi Mintarti Wijaya2), Santoso Sungkono3) dan Subandi4)

1.         Staf Pengajar Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

2.         Staf Pengajar Jurusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang

3.         Ketua HKTI Kota Malang

4.         Staf Pengajar Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Limbah gergajian kayu memiliki nilai ekonomi jika dimanfaatkan secara benar. Limbah itu sekarang ini hanya terbatas sebagai bahan bakar untuk keperluan dapur sehingga kurang mempunyai nilai ekonomi. Salah satu manfaat yang dapat diperoleh dari limbah tersebut adalah sebagai media untuk budidaya jamur tiram yang akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga macam komposisi limbah serbuk yang digunakan, komposisi 100 kg serbuk gergaji dicampur dengan 16 kg dedak, 4 kg tepung jagung, 0,7 kg CaCO3 dengan kadar air 65% dapat dimanfaatkan sebagai media tanam dan memiliki pengaruh yang paling signifikan untuk berat panen jamur tiram. Berdasarkan analisis untung- rugi, untuk satu kali periode penanaman yang berlangsung selama 6 bulan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 1.016.000,- dengan ukuran kubung 2×2 m2. Penelitian ini adalah penelitian awal yang dapat dikembangkan untuk mendapatkan komposisi yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram dengan membuat variasi pada campuran yang lain.

Kata-kata kunci: limbah gergajian kayu, jamur tiram

 

Ripsaw waste has economic value if exploited real correctly. This waste in this time used only for kitchen so that less is having for economic value. Actually, one of this waste benefits is as media for oyster mushroom. Result of research indicate that from three kinds of used waste composition, composition 100 kg mixed with 16 kg of rice milling waste, 4 kg maize powder, 0,7 CaCO3 with 65% humidity can be used as medium and have significant for the weight of harvest oyster mushroom. Base on the profit analysis, one cultivation period that goes on during 6 months obtained the profit equal to Rp. 1.016.000,- with the size area 2×2 m2.

 

Keywords: ripsaw waste, oyster mushroom

 

 

APLIKASI BAKTERI INDIGENOUS LIMBAH PABRIK PENYAMAKAN KULIT KASIN MALANG SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI DALAM USAHA MENGURANGI AKUMULASI LIMBAH BERBAHAYA

 

Endang Suarsini dan Mohamad Amin

Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Pencemaran limbah industri masih terjadi pada kawasan industri kecil penyamakan kulit. Masalah-masalah pencemaran yang timbul diantaranya adalah: limpahan khrom, pembuangan VOC (Volatile Organic Compound), pemakaian air, limbah kulit, limbah sulfida, tingginya TSS (Total Suspended Solid), limpahan minyak dan lemak dalam limbah, dan tingginya BOD (on line). Pabrik penyamakan kulit Kasin, Malang telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan menggunakan teknologi sistem SBR (Sequential Bath Reactor). Penerapan teknologi ini dalam prakteknya masih ada kekurangan yaitu pada saat komponen alat-alat yang digunakan mengalami kemacetan mesin sementara total mikroba tidak seimbang dengan akumulasi limbah yang berlimpah, maka sistem tidak dapat beroperasi dengan baik sehingga akan berakibat pada proses pengolahan limbah kurang sempurna. Satu alternatif pengolahan limbah yang dapat digabungkan dengan teknik yang ada ialah teknologi bioremediasi. Prinsip penerapannya mudah yaitu memanfaatkan proses metabolisme dari mikroorganisme untuk menghilangkan komponen beracun dari limbah, sehingga limbah aman terhadap lingkungan. Salah satu mikroorganisme yang dapat digunakan ialah bakteri.  Maka dari itu, dalam penelitian dikaji seberapa besar potensi bakteri indigenous dari limbah penyamakan kulit mampu menguraikan polutan organik dan isolat-isolat bakteri jenis apa saja yang berpotensi menghidrolisis lemak, amilum dan protein. Metode yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian adalah penelitian deskriptif–eksploratoris dengan teknik observasi. Pada penelitian ini isolat-isolat bakteri yang ditemukan diuji kemampuannya terhadap hidrolisis lemak, amilum dan protein, sehingga dapat diketahui berapa jumlah isolat yang berpotensi lipolitik, amilolitik dan  proteolitik. Hal ini dilakukan atas dasar analisis laboratorium bahwa limbah pabrik penyamakan kulit komponen tertinggi adalah bahan limbah yang mengandung lemak, protein dan karbohidrat.

 

Kata-kata kunci: bakteri indogenous, bioremediasi, limbah pabrik kulit

 

PEMANFAATAN GELATIN HASIL EKSTRAK CINCAU HIJAU (CYCLEA BARBATA) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF CAMPURAN GEL ELEKTROFORESIS

 

Mohamad Amin, Hasbiyan Rosyadi, Nikmatus Sholihah dan Ima Nurfajriyah

Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Elektroforesis adalah salah satu teknik vital dalam pekerjaan laboratorium biologi dasar maupun rekayasa yang biasanya digunakan untuk menggambarkan pergerakan molekul bermuatan (DNA atau protein) di dalam medan listrik kearah elektroda di dalam muatan berlawanan. Metode standar yang digunakan untuk identifikasi, pemisahan dan pemurnian fragmen DNA adalah elektroforesis gel agarose. Namun penggunaan gel agarose masih dirasa mahal untuk kepentingan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah gel cincau hijau (Cyclea barbata) dapat digunakan sebagai campuran pengganti gel untuk elektroforesis. Gel yang diperoleh dari ekstrak daun cincau dengan konsentrasi 10 % digunakan untuk campuran gel agarose dengan perbandingan 1 : 1. Gel campuran ini kemudian dibandingkan dengan gel agarose murni. Sampel DNA yang digunakan adalah DNA total dari tiga sapi Bali dengan strain yang berbeda yang didapat dari laboratorium biologi molekuler Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada gel cincau hijau, pita-pita DNA mampu bergerak dan terseparas, namun dalam proses running membutuhkan waktu dua kali lebih lama dibandingkan dengan DNA yang diseparasi oleh gel agarose. Selain itu, hasil yang diperoleh setelah didedahkan sinar UV dengan transilluminator, ternyata band DNA yang diseparasi pada campuran gel cincau tidak berpendar. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya pendaran pada saat pemotretan.

 

Kata Kunci:, agarose, bahan alternatif, cincau hijau,  elektroforesis, gelatin

 

 

 

IDENTIFIKASI GENETIK KERBAU LOKAL JAWA BERBASIS RLFP-DNA (RESTRICTION LENGTH FRAGMENT POLYMORPHISMS DNA): STRATEGI AWAL KONSERVASI DAN UPAYA PENYEDIAAN BIBIT UNGGUL

 

Mohamad Amin

Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Kerbau lumpur (Bubalus bubalis) lokal merupakan salah satu plasma nutfah dan jenis ternak yang memberikan kontribusi besar dalam penyediaan daging nasional untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat dan keunggulan lain adalah tahan terhadap serangan penyakit. Seleksi negatif di tingkat peternak dan upaya pembibitan yang kurang diperhatikan mengakibatkan kerbau lokal yang tersisa adalah ternak-ternak yang kualitasnya kurang bagus yang kemudian terpaksa menjadi kerbau bibit. Dengan keadaan tersebut, diduga telah terjadi inbreeding di dalam populasi kerbau yang apabila berlangsung terus menerus akan meningkatkan jumlah individu homosigot di dalam populasi tersebut sehingga dapat menyebabkan menurunnya performansi fenotif misalnya ukuran tubuh, fertilitas dan daya tahan tubuhnya. Untuk menunjang keberhasilan upaya pelestarian dan konservasi serta pembibitan kerbau lumpur lokal, maka sangat perlu segera dilakukan identifikasi variasi fenotif dan variasi genetik berbasis molekuler dengan metode RFLP pada genom DNA dengan pertimbangan efisiensi waktu dan efektifitas pelaksanaan.

Penelitian ini dalam jangka panjang berusaha untuk: a). mengungkap keragaman fenotip kerbau lumpur lokal yang terdapat di beberapa daerah di Jawa, b). mengkaji variasi genetiknya melalui analisis DNA dengan metode RFLP dan c). mengkaji hubungan variasi fenotip dengan variasi genetik tersebut. Penelitian di dilaksanaan dalam dua tahap yaitu tahap pertama untuk analisis fenotip kerbau lumpur lokal tahap kedua adalah analisis genetik dengan teknik RFLP. Fenotif yang diamati meliputi jenis kelaminnya, kemudian dicatat ciri-ciri fenotipnya antara lain umur, bentuk tubuh, ukuran kepala, panjang leher, warna tubuh, warna mata, bentuk dan panjang ekor, bentuk dan panjang tanduk, panjang kaki, lingkar badan dan panjang tubuh total. Untuk menentukan variasi genetik (polimorfisme, heterozigositasnya) data yang diperoleh dianalisis dengan software GENEPOP Pakcage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tiga wilayah di Jawa (Timur, Tengah dan Barat) memiliki keragaman genetic yang berbeda.

 

 

PEMANFAATAN GELATIN HASIL EKSTRAK LIDAH BUAYA SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF CAMPURAN GEL ELEKTROFORESIS

 

Mohamad Amin

Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

 

Elektroforesis adalah salah satu teknik vital dalam pekerjaan laboratorium biologi dasar maupun rekayasa yang biasanya digunakan untuk menggambarkan pergerakan molekul bermuatan (DNA atau protein) di dalam medan listrik kearah elektroda di dalam muatan berlawanan. Metode standar yang digunakan untuk identifikasi, pemisahan dan pemurnian fragmen DNA adalah elektroforesis gel agarose. Namun penggunaan gel agarose masih dirasa mahal untuk kepentingan penelitian. Hasil penelitian dengan ekstrak daun cincau menunjukkan adanya pita-pita DNA mampu bergerak dan terseparasi, namun dalam proses running membutuhkan waktu dua kali lebih lama dibandingkan dengan DNA yang diseparasi oleh gel agarose. Selain itu, hasil yang diperoleh setelah didedahkan sinar UV dengan transilluminator, ternyata band DNA yang diseparasi pada campuran gel cincau tidak berpendar

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah gel lidah buaya dapat digunakan sebagai campuran pengganti gel untuk elektroforesis. Gel yang diperoleh dari ekstrak daun lidah buaya dengan konsentrasi 10 % digunakan untuk campuran gel agarose dengan perbandingan 1 : 1. Gel campuran ini kemudian dibandingkan dengan gel agarose murni. Sampel DNA yang digunakan adalah DNA total dari kerbau Blitar dengan individu yang berbeda yang didapat dari laboratorium biologi molekuler Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada gel lidah buaya, pita-pita DNA mampu bergerak dan terseparasi, dalam proses running membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan DNA yang diseparasi oleh gel agarose. Setelah didedahkan sinar UV dengan transilluminator, ternyata band DNA yang diseparasi pada campuran gel cincau dapat berpendar, namun kualitas pendaran kurang bagus.

 

Kata Kunci:, agarose, bahan alternatif, elektroforesis, gelatin, lidah buaya

 

 

 

INTERVENSI ARUS GENETIK SAPI LUAR DAERAH TERHADAP KERAGAMAN EKSPRESI FENOTIF

SAPI LOKAL DI KABUPATEN BANYUWANGI

 

Mohamad Amin

Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Sapi lokal merupakan salah satu plasma nutfah dan jenis ternak yang memberikan kontribusi besar dalam penyediaan daging nasional untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Namun, penambahan populasi ternak tidak seimbang dengan kebutuhan nasional. Seleksi negatif di tingkat peternak dan upaya pembibitan yang kurang diperhatikan mengakibatkan sapi lokal yang tersisa adalah ternak-ternak yang kualitasnya kurang bagus yang kemudian terpaksa menjadi sapi bibit. Sejarah perkembangan sapi lokal di Banyuwangi cukup panjang dan menarik karena terkait dengan perkembangan masyarakatnya yang terdiri dari banyak suku (Jawa, Bali, Osing). Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui keragaman fenotif sapi lokal di Kabupaten Banyuwangi dan melacak pola persilangan yang memunculkan keragaman fenotif sapi lokal ini.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa di tiga wilayah pengamatan diperoleh data sejumlah 42 sapi di wilayah Rogojampi dengan 11 jenis, 48 sapi di wilayah Tegaldlimo dengan keragaman sejumlah 17 jenis,  dan dari jumlah 18 di wilayah Glagah ditemukan 6 jenis. Munculnya keragaman fenotif sapi lokal di Kabupaten Banyuwangi ini (secara total ditemukan 33 jenis) disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama adalah akibat intervensi arus genetik sapi luar daerah (sapi Bali, sapi Ongole (dan Peranakan Ongole, sapi Brahman)  dengan sapi Jawa. Faktor kedua adalah program  inseminasi buatan (IB) dengan sperma sapi Limousin, Simental, Aberden Angus dan Santa gertrudis.

 

Kata-kata kunci: intervensi arus genetik, sapi lokal, variasi fenotif

 

PENERAPAN KEGIATAN HANDS ON ACTIVITY DAN MODIFIED DISCOVERY-INQUIRY PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS II SMP LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG

 

Mohamad Amin1, Yayuk Prihatnawati2 dan Ida Nuraini2

1 Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

2 Guru Biologi SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Data awal terhadap hasil belajar siswa kelas II SMP Lab UM memberi bahwa secara umum hasil belajar kelas IIA adalah yang paling rendah dan kelas yang paling pasif di antara kelas paralel lain. Hal ini disebabkan bahwa siswa sangat sulit diajak berinteraksi di dalam proses belajar mengajar selama guru melakukan proses pembelajaran dan gejala ini menunjukkan rendahnya motivasi belajar siswa. Rendahnya motivasi ini akan berpengaruh kepada rendahnya aktivitas dan hasil belajarnya. Untuk memecahkan masalah ini dilakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari tiga siklus tindakan. Pengumpulan data motivasi belajar meliputi tiga aspek yaitu aspek tingkah laku, aspek kognitif dan aspek ketertarikan melalui lembar observasi dan angket siswa. Untuk aktivitas belajar meliputi komponen: melakukan pengamatan, merekam data pengamatan, mengkomunikasikan hasil pengamatan dan penyelesaian tugas. Untuk hasil belajar diperoleh dengan menghitung skor pos test dari setiap siklus berakhir. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Dari hasil yang diperoleh diketahui ada peningkatan motivasi belajar siswa dari siklus 1 sampai 3 (siklus 1 = 43,08% (kategori cukup), siklus 2 = 58,46% (kategori cukup) dan siklus 3 = 61,53% (kategori baik). Diketahui pula ada peningkatan aktivitas yang pada siklus 1 dengan persentase keberhasilan 64,09% (kategori baik), siklus 2 sebesar 71,23% (kategori baik) dan siklus 3 sebesar 82,54% (kategori sangat baik). Juga terjadi peningkatan hasil belajar siswa dengan skor rata-rata 73,38 (siklus I), 73,53 (siklus II) dan 74,86 (siklus III). Dilihat dari ketuntasan belajar terjadi peningkatan yang signifikan yaitu hingga siklus III semua siswa tuntas belajarnya. Respon siswa terhadap kegiatan hands on activity dengan dipadukan modified discovery-inquiry menunjukkan bahwa siswa sangat senang mata pelajaran biologi disampaikan melalui metode praktikum sejumlah 80,9 % karena metode ini mudah dimengerti dan diingat (78,56 %). Siswa memahami materi jika disampaikan melalui praktikum (90,47 %) karena materi ini dapat dihubungkan dengan contoh sehari-hari di sekitar kita (100 %). Dengan demikian bahwa penerapan hands on activity dan modified discovery-inquiry dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa kelas IIA di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajarnya. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar guru menerapkan kegiatan hands on activity dan modified discovery-inquiry pada pokok bahasan yang sesuai dengan mempertimbangkan alokasi waktunya.

 

Kata-kata kunci : aktivitas belajar, hands on activity, modified discovery-inquiry, hasil belajar, motivasi,  pembelajaran biologi

 

 

 

PENERAPAN HANDS ON ACTIVITY DAN PERTANYAAN TERBIMBING PADA PEMBELAJARAN KONSEP DASAR SAIN TENTANG ANGIN UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN MOTIVASI BELAJAR, AKTIVITAS MOTORIK  DAN  KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA KELOMPOK B-2  TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL 7 SEMESTER 2 KOTA MADIUN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

 

Mohamad Amin1), Muafirroh2)

1) Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

2) TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 7 Kota Madiun

 

Abstrak

Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Madiun (TK ABA 7) adalah salah satu TK swasta di Kota Madiun yang dikelola secara langsung oleh PCA Kartoharjo Majelis Dikdasmen  Kota Madiun. TK ABA 7 dengan misi ke masa depan diharapkan dan diproyeksikan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang bercirikan ke Islaman yang berkualitas. Pengamatan guru terhadap aktivitas belajar siswa kelompok B TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 7 ini diperoleh gambaran bahwa secara umum kelompok ini selama kegiatan belajar belum menunjukkan aktivitas belajar yang optimal terutama kelompok B-2 (kelompok B ada 3 kelompok paralel yaitu B-1, B2 dan B-3), khususnya dalam pembelajaran sains. Selama ini guru hanya bercerita dengan menunjukkan gambar-gambar. Anak belum dilibatkan secara langsung dalam membangun pemahaman mereka tentang sains. Keadaan ini membuat siswa kurang aktif dan kegiatan belajar cenderung membosankan,akibatnya  siswa menjadi gaduh. Kegaduhan ini muncul diduga akibat banyak siswa yang mengganggu temannya karena kegiatan pembelajaran kurang menarik. Untuk ini dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan hands on activity dan pertanyaan terbimbing untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa yang meliputi motivasi belajar, aktivitas motorik dan kemampuan berpikir siswa. Pembelajaran dengan menggunakan hands on activity dan pertanyaan terbimbing dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas baik ditinjau dari aspek tingkah laku, aspek kognitif dan aspek ketertarikan (aspek tingkah laku, pada siklus I sebesar 31,25 % dan pada siklus II meningkat 58,75%, motivasi belajar siswa aspek kognitif pada siklus I sebesar 41% dalam kategori cukup menjadi 66 % pada siklus II dalam kategori baik, dari aspek ketertarikan, pada siklus 1 sebesar 53,33  dalam kategori cukup menjadi 85% dalam kategori sangat baik). Pembelajaran dengan menggunakan kegiatan hands on activity dan pertanyaan terbimbing dapat meningkatkan aktivitas motorik siswa, terlihat dari taraf keberhasilan tindakan kategori sangat baik, dengan peningkatan persentase keberhasilan pada siklus I sebesar 70% menjadi 83,33% pada siklus II. Juga terjadi peningkatkan kemampuan berpikir siswa dapat dilihat dari jumlah pertanyaan 5 pada siklus 1 dan 8 pada siklus 2 dengan kategori pertanyaan meningkat mencapai taraf pertanyaan penerapan (mencapai taraf pertanyaan sintesis (C5). Selanjutnya disarankan bagi guru yang lain untuk mencoba menerapkan kegiatan hands on activity dan pertanyaan terbimbing pada pokok bahasan yang sesuai agar dapat meningkatkan motivasi, aktivitas motorik dan kemampuan berpikir siswa. Hands on activity dan pertanyaan terbimbing ini banyak membutuhkan waktu, oleh karena itu guru harus benar-benar mempersiapkannya dengan baik

Kata-kata kunci: aktivitas motorik, motivasi belajar, hands on activity, kemampuan berpikir siswa, pertanyaan terbimbing

 

PENERAPAN KEGIATAN HANDS ON ACTIVITY

DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI POKOK BAHASAN EKOSISTEM UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI, AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IC SMP LABORATORIUM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

 

Mohamad Amin1, Yayuk Prihatnawati2 dan Ida Nuraini2

1 Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

2 Guru Biologi SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Berdasarkan hasil analisis data terhadap hasil belajar siswa kelas I SMP Lab UM diperoleh gambaran bahwa secara umum hasil belajar kelas IC adalah yang paling rendah dan berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa kelas ini kelas yang paling pasif di antara empat kelas paralel lain. Masalah utama yang dihadapi guru untuk kelas ini adalah siswa sangat sulit diajak berinteraksi di dalam proses belajar mengajar selama guru melakukan proses pembelajaran dan gejala ini menunjukkan rendahnya motivasi belajar siswa. Untuk memecahkan masalah ini dilakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari tiga siklus tindakan. Dalam satu siklus meliputi tahap: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data motivasi belajar meliputi tiga aspek yaitu aspek tingkah laku, aspek kognitif dan aspek ketertarikan melalui lembar observasi dan angket siswa. Selain itu juga dilakukan observasi terhadap kegiatan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Dari hasil yang diperoleh diketahui ada peningkatan motivasi belajar siswa baik aspek tingkah laku, aspek kognitif dan aspek ketertarikan, diketahui pula ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan skor rata-rata 73,38 (siklus I), 73,53 (siklus II) dan 74,86 (siklus III). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan hands on activity dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa kelas IC di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar guru menerapkan kegiatan hands on activity pada pokok bahasan yang sesuai dan perlu dipersiapkan penggunaan waktunya.

Kata-kata kunci : aktivitas belajar, hands on activity, hasil belajar, motivasi,  pembelajaran biologi